Gue sampai pada suatu titik dimana ruang di dada gue sudah sampai limitnya dan bener-bener gak bisa diisi lagi.
Nyesek.
Rasa lapar hilang ditekan oleh kesesakan di dada. Rasanya paru-paru gue terhimpit. Jantung gue gak bisa terkoneksi dengan baik ke nadi gue. Mencekik gue. Menekan gue. Menarik-narik dan mengguncangkan tubuh gue dengan hebat.
Hal ini mengalahkan segala rasa apapun, bahkan rempahan bumbu di ayam goreng yang tadi gue makan.
Ini bener-bener pertama kali gue ngerasain sesek dan penat di dada. Bertubi-tubi berita menerjang gue, walaupun sebenarnya kalo dipikir-pikir gue gak perlu kok mikirin berita ini. PEDULI TAI.
Tapi gak bisa.
Pengen banget gue bakar, tapi apinya mati terus. Gue buang ke dasar samudera Hindia yang paling dalam sekalipun, hal itu akan muncul lagi ke permukaan dan gak akan mau tenggelam.
Suram.
Sebenernya serius, gue gak perlu banget mikirin hal ini. Tapi ini udah membuat kesabaran gue yang tadinya setinggi WTC di Washington, menjadi roboh seketika persis ketika menara itu diterjang oleh pesawat jet teroris tidak beradab itu. Bangunan yang kokoh berdiri dengan bangga itu menjadi hancur, persis seperti kesabaran gue.
Sekarang gue baru ngerti kenapa ada yang bilang "sikap itu belum mencerminkan perilaku".
Terkadang orang paling taat sekalipun bisa menjadi orang paling 'parah'.
Orang yang kelihatannya paling baik-pun bisa menjadi iblis setan bermuka dua, yang entah bagaimana caranya dia bisa membungkusnya dengan sangat rapi dan cantik seperti kado-kado di bawah pohon natal.
Urusin urusan lo. Jangan ganggu urusan orang lain. Jangan anggep lo yang paling berkuasa diatas segalanya. Jangan salah sangka. Jangan memperburuk keadaan. Jangan membuat batasan-batasan yang seharusnya tidak ada. Jangan mendukung batasan itu untuk semakin tampak jelas. Jangan buat emosi gue makin meledak.
Gue rasa apa yang bisa gue petik dari pelajaran ini adalah : Jangan percaya sama orang 100% sebelom lo kenal dia luar dalem. Itu simpel banget, tapi sebenernya itu bener banget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar